Hai ...
Ahahahah kemarin SiPaus terlalu asik ama game online nya sampe sampe gak sempet mampir ke pauscurhat.blogspot.com tercintanya..
Cuma tenaaang.. sekarang ni SiPaus mau share pengalamannya waktu ikut Live in beberapa waktu yang lalu...
Live in laboratorium klinis yang sangat menyenangkan dengan penuh kebahagiaan dan keceriaan.. Tidak dituntut macam-macam dan bebas mengeksplorasi diri sendiri... (^^ ,) Bukan hanya itu, semua kegiatannya sangat berkesan dan bisa mengambil beberapa perjalanan kehidupan dari masing-masing peserta...
Eitsss... hueheheheh tapi SiPaus mau share pengalaman di salah satu kegiatan nih... Saat itu ada salah satu kegiatan yang desas desusnya seperti
(Backsound : Jeng jeeeng Aaaaaarggghhhh)
JERIT MALAM @o@
(Backsound : Jeng jeeeng Aaaaaarggghhhh)
Seperti biasa jerit malam dilakukan dengan cara jalan seorang diri tanpa membawa penerangan apapun.. Hanya berada dalam suasana hening dari alam ditemani cahaya bulan dan bintang serta dimeriahkan warna warni cahaya fosfor...
Saat itu suhu udara sangat dingin hingga menembus tulang belulang badan SiPaus.. Sambil menunggu antrian dengan beberapa teman sebut saja Tasya dan June.. Kami bercanda tawa dan membicarakan ketakutan-ketakutan peserta lain dengan menebak-nebak "Jangan-jangan kita dapet giliran yang paling terakhir... ahahahahahha" Ternyata tebakan itu benar kita dapat giliran yang terakhir.. Tapi yang sungguh-sungguh menjadi peserta paling akhir itu yhaa gueeee meenn.. Jadi yha kunikmati aja perjalanan menyatu dengan alam itu sambil sedikit jahil mungutin fosfor yang warna merah ama biru wkwkwkwkwkw....
(Perjalanan menuju kedamaian : Menyatu dengan Alam ... akan di buat khusus di blogger ini)
Saat perjalanan selesai, SiPaus diberi oleh salah satu dosen secarik kertas dengan kalimat sambutan seperti ini "Buka dan baca di saat kamu sedang sendiri.. Tolong direnungkan !"
(Membuka kertas saat tidak sendirian di kamar bareng temen-temen lain)
Untuk Sahabatku, Semoga cerita ini dapat membantu proses perkembanganmu...
Mau Jadi Apa
Seorang pelukis keliling berhenti di suatu kota kecil sambil berharap akan memperoleh pekerjaan untuk hari itu. Salah seorang kliennya ialah seorang yang terkenal pemabuk di kota itu. Dia kotor, mukanya tidak tercukur, pakaiannya kumal. Dia duduk di depan pelukis tadi untuk digambar dengan segala gaya yang dapat diungkapkannya. Pelukis itu melukis lebih lama dari biasanya, kemudian dia mengangkat gambar itu dan menunjukkannya kepada si pemabuk itu. Si pemabuk yang keheranan itu protes, "Itu bukan saya !" setelah memperhatikan wajahnya yang dihiasi senyum dan berpakaian teratur. Seniman yang dapat melihat di balik hal yang kelihatan dan memandang keindahan batinnya, menjawab dengan penuh kebijakan, "Tetapi itulah orang yang engkau dapat jadi."
SiPaus Merenung . . . . . .
(To Be Continued)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar